google-site-verification=Vvbx4y1tnvoPwD5qptvoSIefF59IjMIN21NWtwd2ufM 5 Kebiasaan Buruk Penulis - Panji Design
News Update
Loading...

Minggu, 13 Desember 2015

5 Kebiasaan Buruk Penulis

Salam terhangat, Sahabat Panjinulis tahukah seorang penulis mempunyai keburukan-keburukan yang bisa menghambat karirnya. Oleh karena itu saya akan memberikan beberapa keburukan-keburukan itu. Disadari atau tidak jika kita memiliki keburukan tersebut maka anda akan mengangkat tangan dan cepat-cepat mengibarkan bendera putih dan gantung pulpen dari dunia nulis. Gaswat kan kalo begitu. Nah, apa saja yang harus kita hindari? Berikut 5 Kebiasaan Buruk Penulis;

1. Suka mem-PHP Naskah

Satu kebiasaan ini biasanya akan menjangkiti setiap penulis. Mereka kadang suka loncat-loncat dari satu naskah ke naskah lain. Padahal naskah yang satu belum beres, dan mulai memikirkan dan mengerjakan naskah lainnya. So, jika kamu ada pada posisi ini ayo move on dan mulailah fokus dengan naskah yang sedang kamu garap.

2. Malas Membaca

Siapa yang favorit di posisi ini? hayo ngaku aja deh. Membaca adalah suatu kegiatan yang sangat amat bermanfaat, tapi sedikit orang yang mengamalkannya. Jika anda mencari info Para penulis di google atau dimanapun, maka anda akan menemukan rahasia para penulis adalah dengan membaca sebuah buku atau beberapa buku. Seperti halnya Andrea Hirata dalam postingan saya yang terdahulu Andrea Hirata Bocorkan Rahasia Menulis Novel. Dia mengaku bisa membaca 2 sampai 3 buku dalam seminggu. Bagaimana? beliau seorang penulis terkenal tapi masih tergantung kepada buku. Bagaimana dengan kita yang belum menjadi seorang penulis hanya mengandalakn kopi paste. So, mulailah membaca ;)

3. Suka Gagal Fokus

Media sosial, inilah penyebab tersering kita gagal fokus. Tidak hanya dalam menulis, tapi juga saat belajar dan bekerja. Kita hidup di zaman ketika godaan terberat seorang penulis adalah media sosial dan smartphone. Nulis juga baru dapat setengah halaman, ini jari sudah gatel aja update status FB, ngepoin linimasa gebetan, atau jalan2 ke IG artis Korea. Media sosial ibarat candu, yang jika dikonsumsi berlebihan hanya akan memberikan dampak buruk. Itu loh naskahmu nggak jadi-jadi. Jujur-jujuran yuk, dalam waktu SATU JAM terakhir, berapa kali kalian membuka media sosial atau mengutak-atik smart phone?

 4. Males Riset

Kita menulis novel–misalnya–hanya untuk hiburan, ngapain sih pake riset-riset segala? Emang mau nulis skripsi? Menulis novel atau buku populer memang tidak seketat menulis skripsi. Tapi, riset dan menelusuri informasi juga penting dalam menulis. Menulis, seperti saya bilang di awal, adalah kerja kaum pandhita, golongan brahman, kalangan terpelajar. Ini bukan main-main. Kesalahan informasi bisa jadi sesuatu yang fatal, bahkan merusak jalan cerita sebuah novel. Ini gara-gara penulis malas riset. Bayangin aja, baca novel yang menyebut Ubud sebagai ibukota Provinsi Bali, udah manyun aja deh pembaca. Kebanyakan bolong logika, hal yang tidak masuk akal dalam cerita, ini semua bikin pembaca sebal. Gara-garanya penulis malas riset. Juga hal-hal sepele seperti kina sebagai obat malaria, atau perbedaan antara Hepatitis A dan C; hal-hal medis begini penting loh.

Sekarang sudah zamannya internet, paling tidak kamu bisa googling dulu untuk riset kecil-kecilan, biar yakin dan tidak menyesatkan pembaca. Tidak harus spesifik, cukup riset-baca saja sebagai cross-check. Ini mau nulis novel atau buku populer, bukan ngarap disertasi. Dunia saat ini bisa diibaratkan berada di ujung jari kita, maka manfaatkanlah internet sebagai sumber ilmu dan sumber data dalam menulis. Karena menulis tidak cukup hanya dengan imajinasi semata; ada proses pembelajaran dan membelajarkan di dalamnya. Pembaca akan lebih menyukai tulisan yang berisi, yang tidak sekadar hasil imajinasi semata, tapi ada pelajaran sekaligus hiburan di dalamnya. Tulisan yang berisi, yang menghibur sekaligus memberikan pelajaran, akan hadir dari proses membaca, merenung, dan memperhatikan. Ini riset. Jadi, jangan malas riset ya, wahai para calon penulis. Seenggak-enggaknya, googling dulu deh. Sip, kalian pasti bisa.

5. Suka Cari-Cari Alasan Untuk Tidak Menulis

Tanpa kita sadari, sering kita menggunakan berbagai dalih untuk tidak menulis (termasuk untuk tidak menyelesaikan naskah). Gak punya laptop. Nggak ada waktu. Banyak kerjaan. Itu halaman belum disapu. Nggak ada ide. Banyak ya alasannya. Kita ini pandai sekali mencari alasan untuk tidak menulis. Daftarnya bisa panjang banget kayak rel monorail. Bahkan, alasan sepele seperti tumpukan piring kotor dan anak yang rewel, ini adalah alasan paling favorit untuk tidak menulis. Padahal, kalau mau jadi penulis dan pengen punya karya ya kita harus menulis. Apa pun alasannya, no excuse, pokoknya mau jadi penulis itu ya menulis.

Sumber : BlogDivapress

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
Panjiasmara.id melayani jasa design web, design logo, design post instagram dan marketing produk.
Done